Geppak Kaltim Soroti Kelangkaan BBM di Berau, Desak Pemerintah Turun Tangan
Prabhumedia || TANJUNG REDEB – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Berau yang berlangsung sejak beberapa pekan terakhir kembali menjadi sorotan. Harga eceran Pertalite dan Pertamax melonjak dua kali lipat, memaksa warga membeli di luar harga resmi.
Ketua DPW Geppak Kaltim, Hidayaturrachman, ST, melalui Humasnya Alimin menegaskan agar pemerintah segera menunjukkan kepedulian terhadap kondisi ini.
“Kami minta pemerintah, baik pusat maupun daerah, jangan tutup mata. Rakyat kecil paling terdampak. Ojek, petani, pedagang kecil sekarang kesulitan beraktivitas hanya karena BBM langka dan mahal,” tegas Alimin saat dikonfirmasi, Selasa (2/9/2026).
Menurut Alimin, kelangkaan ini bukan semata karena faktor alam. Praktik pengetapan antrean dan penimbunan oleh oknum juga memperparah situasi. Di lapangan, warga terpaksa membeli Pertalite Rp18.000 per liter dan Pertamax Rp20.000 per liter di pedagang eceran.
Penyebab Distribusi Tersendat
Pertamina Patra Niaga menjelaskan keterlambatan pasokan terjadi karena kapal pembawa BBM mundur dari jadwal 27 Agustus ke 31 Agustus 2026. Ditambah lagi, kedangkalan alur Sungai Berau menghambat proses pembongkaran dari kapal ke depo.
Total pasokan yang tertahan meliputi 1.500 KL Pertalite, 500 KL Pertamax, dan 3.000 KL Biosolar. Pemkab Berau memprediksi pasokan baru masuk awal September.
Wakil Bupati Berau Gamalis juga mengakui realisasi kuota BBM yang datang lebih kecil dari yang ditetapkan BPH Migas.
Desakan Geppak
Geppak Kaltim mendesak 3 hal:
1. Pengawasan ketat di SPBU untuk mencegah pengetapan dan penimbunan
2. Percepatan distribusi dan normalisasi alur sungai agar kapal bisa sandar tepat waktu
3. Penegakan hukum terhadap praktik jual BBM di atas HET
“Jangan sampai kesulitan pasokan dijadikan alasan untuk merugikan rakyat kecil. Kami berhak dapat BBM dengan harga wajar sesuai aturan,” tutup Alimin.
Hingga saat ini antrean di sejumlah SPBU Tanjung Redeb masih mengular dan warga berharap pasokan segera normal.
0 Komentar