Prabhumedia || SUMEDANG –
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumedang terus memperkuat komitmennya dalam mengentaskan kemiskinan melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis zakat produktif. Melalui skema ini, Baznas menargetkan para penerima zakat (mustahik) dapat tumbuh menjadi mandiri secara ekonomi, bahkan kelak bertransformasi menjadi pemberi zakat (muzakki).
Ketua Baznas Sumedang, Ayi Subhan Hafas, menegaskan bahwa perubahan pola pikir dari bantuan konsumtif ke produktif adalah kunci keberhasilan program.
“Target utama kami adalah bantuan yang diberikan harus bersifat produktif. Harapannya, mustahik yang awalnya penerima, ke depan bisa menjadi muzakki,” ujar Ayi saat memberikan keterangan di Sumedang, Senin (9/2/2026).
Tiga Pilar Program Unggulan: Z-Auto, Z-Mart, hingga Balai Ternak
Untuk mewujudkan visi tersebut, Baznas Sumedang telah menggulirkan sejumlah program unggulan yang menyasar berbagai sektor ekonomi masyarakat:
1. Z-Auto (Zakat Otomotif): Program pemberdayaan bengkel motor. Tidak hanya modal usaha sebesar Rp20 juta per bengkel, para mustahik juga dibekali pelatihan teknis di Balai Latihan Kerja (BLK). Saat ini, tiga bengkel binaan telah sukses beroperasi.
2. Z-Mart (Warung Zakat): Sebanyak 50 warung telah mendapatkan kucuran modal dengan total anggaran Rp375 juta (Rp7,5 juta per warung). Program ini mencakup penataan tempat usaha hingga manajemen keuangan agar modal terus berputar.
3. Balai Ternak: Berlokasi di wilayah Cijeunjing dan Jatigede, program ini melibatkan kelompok mustahik dalam pengelolaan ternak domba secara komunal. Di Cijeunjing, 20 orang mustahik mengelola kandang bersama dengan pola pendampingan dari penanaman pakan hingga pemasaran hasil panen.
Pendampingan Ketat Sebagai Kunci Keberlanjutan
Ayi menekankan bahwa seluruh program ini berada di bawah naungan skema MK3 (Mustahik Kemandirian dan Kewirausahaan). Keunggulan utamanya terletak pada sistem pendampingan yang intensif. Tanpa pendampingan, bantuan modal sering kali habis tanpa memberikan dampak jangka panjang.
“Bantuan itu harus berkembang, bukan habis. Itulah mengapa pendampingan menjadi elemen krusial bagi kami,” tegas Ayi.
Salah satu aturan ketat diterapkan di Balai Ternak Kecamatan Jatigede yang sudah berjalan hampir tiga tahun. Setiap domba yang dijual wajib diganti dengan bibit baru agar populasi ternak tetap stabil atau bertambah. Aturan ini memastikan bahwa roda ekonomi mustahik tidak berhenti di tengah jalan.
Sinergi program Baznas ini diharapkan tidak hanya memperbaiki taraf hidup masyarakat, tetapi juga mampu mendukung penguatan ekonomi kreatif daerah, sejalan dengan potensi sejarah dan budaya yang ada di Sumedang.
Joernalis : Dian dabo