Dari Jakarta ke Banua,Om Piet Pagau dan Sultan Civi siap Bangkitkan Macan film Kalimantan Selatan Bersama Geppak nasional
Prabumedia || BANJARMASIN, 2 November 2026 - Jika biasanya kabar film nasional datang dari Jakarta, kali ini angin perubahan itu berhembus kencang dari jantung Kalimantan Selatan.
Sebuah pertemuan yang tidak biasa terjadi di sebuah meeting room eksklusif di Banjarmasin. Tidak ada karpet merah, tidak ada sorot kamera infotainment. Yang ada hanyalah lima orang pria dengan satu visi besar yang sama: Mengembalikan marwah cerita Banua ke layar lebar.
Di ruangan itu duduk sosok yang wajahnya sudah hafal di kepala jutaan penonton Indonesia. Om Piet Pagau. Aktor legendaris yang sudah membintangi puluhan judul, dari era Si Pitung hingga Preman Pensiun. Di sebelahnya, ada Sultan Civi Yusuf Isnendar, aktor muda dan produser nasional yang jaringan filmnya menggurita di industri ibukota.
Mereka tidak datang sendiri. Mereka disambut langsung oleh motor penggerak pemuda Banua, H. Saipurrahman atau yang akrab disapa Ipul Gambut, Ketua Umum GEPPAK (Gerakan Putra Puteri Asli Kalimantan). Bersama dua panglima daerahnya, Zulkifli Ijung (Ketua DPW Kalsel) dan Farid Ridhaan (Ketua DPC Banjar).
Apa yang mereka bicarakan? Bukan proyek kecil.
Mereka sedang merancang lahirnya RUMAH PRODUKSI (PRODUCTION HOUSE) PERFILMAN INDONESIA DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN yang pertama dan terbesar.
MENGAPA INI PENTING?
Selama puluhan tahun, Kalimantan Selatan adalah lumbung cerita. Kita punya legenda naga di Sungai Barito, mistis Pulau Kaget, heroiknya Pangeran Antasari, harumnya budaya Banjar, hingga megahnya Pegunungan Meratus yang belum pernah tersentuh kamera sinema secara serius.
Tapi sayang, cerita-cerita itu hanya menjadi dongeng dari mulut ke mulut. Bakat-bakat muda kita – aktor teater, sutradara muda, penulis naskah dari kampus-kampus di Banjarmasin, Banjarbaru, dan Martapura – harus merantau ke Jakarta hanya untuk dapat kesempatan figuran.
"Kalsel itu bukan kekurangan cerita, kita kekurangan wadah. Anak-anak muda Banua itu berbakat luar biasa, tapi selama ini mereka seperti berlian yang terpendam di dalam lumpur. Tidak ada yang mengasah," ujar H. Saipurrahman dengan mata berapi-api.
Dan disinilah peran Om Piet Pagau menjadi kunci. Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di dunia seni peran, Om Piet tidak hanya datang sebagai aktor, tapi sebagai guru, sebagai bapak bagi talenta-talenta baru.
Sementara Sultan Civi Yusuf Isnendar adalah jembatannya. Dengan jaringan distribusi film nasional yang ia miliki, ia memastikan film yang dibuat di Kalsel tidak hanya tayang di bioskop lokal, tapi bisa tembus ke jaringan bioskop nasional XXI, CGV, dan platform OTT seperti Netflix dan Vidio.
BLUEPRINT RAKSASA BARUA
Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban namun serius itu, dibahas blueprint besar:
Tahap 1: Perekrutan dan Workshop Gratis untuk 100 talenta muda Kalsel (Aktor, Kameramen, Editor, Penulis Naskah).
Tahap 2: Produksi film pendek berbasis legenda Banua sebagai pemanasan.
Tahap 3: Proyek ambisius Film Layar Lebar pertama dengan judul yang masih dirahasiakan, namun bocorannya akan mengangkat kisah drama-religi dan action khas Banua.
GEPPAK sendiri berkomitmen penuh. Tidak hanya dukungan moral, tapi juga kelembagaan, legalitas, dan pengerahan SDM di 13 kabupaten/kota se-Kalsel.
"Kami dari GEPPAK siap pasang badan. Kami akan siapkan semuanya, dari perizinan lokasi syuting sampai menggerakkan massa untuk jadi figuran. Ini bukan lagi proyek GEPPAK, ini proyek seluruh masyarakat Banua," tegas Ipul Gambut.
Kini, bola sudah bergulir. Mimpi yang dulu dianggap mustahil, kini sudah di depan mata.
Masyarakat Kalsel di mana pun berada, dari pelosok Gambut hingga pesisir Kotabaru, kini menanti dengan satu pertanyaan yang sama:
Film apa yang akan menjadi ledakan pertama dari Production House kebanggaan kita ini? Apakah akan menjadi film laga yang menampilkan Kuntau atau silat Banjar? Atau film drama religi yang menyentuh hati? Atau film horor legenda Sungai Barito yang akan membuat bulu kuduk berdiri?
Satu yang pasti: Sejarah telah ditulis hari ini. Kalsel tidak lagi hanya menjadi penonton, Kalsel siap menjadi pemain utama. Kalsel siap mendunia lewat film!
Kita tunggu gebrakan selanjutnya!
Jurnalis Alimin
Editor Dian Dabo
0 Komentar