Sinergi Swadaya dan Transformasi Ekonomi: Menakar Resiliensi Wisata Sukageuri View di Desa Cisantana


  Prabhumedia || KUNINGAN,24 Januari 2026 – Di tengah pesatnya dinamika industri pariwisata di Kabupaten Kuningan, Desa Cisantana muncul sebagai prototipe keberhasilan tata kelola wisata berbasis komunitas (Community Based Tourism). Melalui objek wisata Sukageuri View, masyarakat setempat membuktikan bahwa kemandirian kolektif mampu menjadi katalisator transformasi ekonomi yang signifikan sekaligus menjaga kelestarian ekologi.


Kemandirian Finansial dan Model Tata Kelola Kolektif

Sejak diinisiasi pada tahun 2016, Sukageuri View mencatatkan rekam jejak pembangunan yang unik tanpa intervensi investor eksternal. Pengelolaannya dilakukan secara mandiri oleh 38 anggota masyarakat lokal dengan dukungan dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melalui sistem kontribusi tiket yang terintegrasi untuk pendapatan desa.


Mulyati, salah satu mahasiswa peneliti, menyoroti bahwa model kolaborasi ini memastikan manfaat ekonomi tetap berputar di lingkup lokal. "Setiap tiket masuk memberikan kontribusi rutin bagi desa, sementara aset secara administratif tetap milik kolektif desa," jelasnya dalam laporan observasi tersebut.


Transformasi Ekonomi Hijau dan Tantangan UMKM

Pergeseran mata pencaharian warga dari sektor ekstraktif seperti penambangan batu menjadi pelaku jasa wisata merupakan indikator keberhasilan transformasi ini. Wulan, mahasiswa lainnya, menilai fenomena ini sebagai penerapan prinsip Green Economy (ekonomi hijau).


"Keberadaan wisata ini mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial dengan memberikan ruang bagi pelaku usaha kecil lokal," ujar Wulan. Namun, ia juga memberikan catatan kritis mengenai belum adanya produk UMKM orisinal yang menjadi identitas khas desa, sehingga diperlukan pendampingan lebih lanjut dari pemerintah daerah.


Preservasi Lingkungan dan Kesadaran Pengunjung

Dari perspektif ekologi, Sonia mencatat bahwa Sukageuri View memiliki resiliensi lingkungan yang baik karena minimnya risiko bencana alam dan ketersediaan sumber air alami yang melimpah. Meski demikian, ia menyayangkan kendala pada program penghijauan akibat perilaku pengunjung.


"Pengelola sudah berupaya melakukan penanaman ulang hingga enam kali, namun kesadaran pengunjung untuk tidak merusak tanaman masih menjadi tantangan besar," ungkap Sonia. Ia merekomendasikan penguatan sistem edukasi dan pengawasan di area rawan agar keasrian alam tetap terjaga dalam jangka panjang.


Akselerasi Budaya sebagai Nilai Tambah

Di sisi lain, potensi budaya lokal dinilai belum tergarap secara optimal sebagai daya tarik utama. Arief menekankan bahwa integrasi seni tradisional seperti angklung dan kecapi dapat menjadi unique selling point yang membedakan Sukageuri View dari kompetitornya.


"Saat ini pertunjukan seni masih bersifat insidental. Diperlukan agenda rutin dan pembentukan tim khusus agar pelestarian budaya menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan," saran Arief.


Rekomendasi Strategis Masa Depan

Secara kolektif, para peneliti mahasiswa menyimpulkan bahwa meskipun Sukageuri View menghadapi tantangan berupa keterbatasan modal dan persaingan ketat, potensi pengembangan tetap terbuka lebar. Dibutuhkan penguatan koordinasi internal untuk meminimalisir dinamika sosial antarwilayah, serta dukungan regulasi dan pendanaan dari pemerintah desa maupun daerah guna meningkatkan kapasitas SDM pengelola.

Sumber : Fahri 

Joernalis : Lipsus Jabar Dian dabo

Lebih baru Lebih lama